Seringkali setiap menyambut pagi hari, aku enggan bangun dengan semangat. Rasa kantukku masih ada ditambah sisa lelah di badan yang mungkin belum terbayar sepenuhnya. Belum lagi, memikirkan beban pekerjaan yang harus kulakukan sepanjang hari, yang mungkin akan membuat waktuku cepat habis hingga malam datang lagi.
Sering juga aku mengeluhkan transportasi publik yang harus kunaiki setiap hari. Mulai dari angkot yang panas tanpa AC, berhenti seenaknya sendiri, sopir yang ugal-ugalan dan kondisi di dalamnya yang kurang aman. Atau bus Transjakarta yang kunaiki setiap hari, sering membuatku menunggu lama di halte hingga naik darah, AC yang kadang tidak terasa, belum lagi penumpang yang penuh berjubel di jam-jam sibuk.
Semua itu belum ditambah dengan kemacetan jalanan ibu kota yang semakin hari semakin gila. Ini juga yang membuatku enggan menyetir mobil sendiri di hari kerja. Bahkan naik taksi pun, bisa jadi pilihan yang salah. Kelelahan selanjutnya juga datang dari keharusan berjalan kaki di bawah teriknya matahari Jakarta, ditambah dengan debu jalanan yang sering membuat sesak napas.
Aku juga sering merasa stress dan lelah memikirkan berbagai pekerjaan yang terasa berat karena ditambah tekanan dari atasan. Atau memikirkan gaji yang kebanyakan hanya numpang lewat setiap bulan lantaran harus membayar ini itu ditambah pengeluaran setiap hari. Atau iri melihat sesama yang nampak lebih sukses dariku.
Sepertinya aku juga sering mengeluh karena masalah-masalah kecil dengan teman, keluarga atau pasangan. Atau hanya karena berat badan bertambah, jerawat yang muncul lagi di sudut wajah, handphone yang sering eror, AC di kamar yang rusak, baju yang sudah mulai jelek, membeli barang terlalu mahal, ketinggalan kesempatan diskon, tidak bisa makan enak, tidak bisa jalan-jalan dan segala tetek bengek lainnya.
Semua itu bagiku hal biasa, bukan suatu hal yang aneh dan kualami hampir setiap hari...
Aku memang sering tidak bersyukur untuk berkat yang ‘biasa’ itu. Aku juga sering tidak menyadari, betapa luar biasanya berkat yang ‘biasa’ itu. Memang aku sering mengeluh. Ah...aku kurang ini, aku kurang itu, aku ingin ini, aku ingin itu Tuhan...mengapa kau tidak adil padaku? Mengapa aku tidak bisa mendapatkannya?
Tapi tidak demikian dengan temanku. Namanya Victor Alexander. Seorang pria muda seumuranku, yang pernah dua tahun sekelas denganku dan lulus SMA di tahun yang sama. Pribadinya energik, cukup banyak bicara dan pintar secara akademis. Setelah mengambil jurusan IPA, dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan kini sudah menjadi dokter muda.
Namun malam ini, aku tidak melihat sosoknya seperti itu lagi. Tubuh besarnya terkulai lemas di ranjang Rumah Sakit Royal Taruma. Ketika kupanggil, pandangan matanya bahkan tak mampu mengarah padaku. Lalu butuh beberapa menit hingga tangan kanannya bergerak ke arahku dan sempat kugenggam.
“Hai apa kabar? Masih inget gua? Uda lama kita nggak ketemu...” begitu kataku.
Saat itu wajahnya masih menengok ke kiri dan pandangan matanya tidak terarah. Mamanya lalu membisikkan, “Itu ada temen Victor, namanya Devi. Temen waktu di KY, lagi dijenguk tuh...”
Mamanya bilang, Victor mau hidup lebih baik kalau diberi kesembuhan.
Yah, sembuh...keinginannya kini hanya bisa sembuh, menjalani hidup yang normal dan mendapatkan berkat yang ‘biasa’ bagiku, dia dan kebanyakan orang lain.
Bagi orang sepertiku sekarang, berkat-berkat ‘biasa’ itu bukan hal aneh. Aku tidak merasa perlu bersyukur, bahkan lebih mudah mengeluh. Tapi tidak bagi Victor sekarang. Keinginan hatinya yang paling dalam hanya satu....mendapatkan berkat yang ‘biasa’ itu.
“Semangat ya...jangan menyerah dan terus berdoa...” begitu pesanku sebelum pulang.
“Iya...thank you buat semuanya...” jawab Victor dengan nada aneh dan terbata-bata.
Tuhan memberkatimu Vic...
Percaya, bahwa Dia akan memberikan berkat yang ‘biasa’ itu lagi padamu.
Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
-Feifei-
Thursday, October 6, 2011
Monday, September 5, 2011
Blessing...
Hari ini, aku mendadak dapat jadwal liputan halal bihalal Bank Mandiri jam 18.30 WIB. Kata Eko, humas yang sms ke Mba Evi, acaranya adalah pertemuan direksi Bank Mandiri dengan para nasabah utamanya. Misalnya Direktur Utama Telkom, Direktur Utama Unilever, Direktur Utama Garuda Food, dan Direktur Utama Sosro.
Hmm..yang terakhir sangat menarik hati. Maklum saja, Sinar Sosro yang terkenal dengan produk teh botol Sosronya itu, sangat tertutup dan sulit diwawancara.
Jadi, dengan mantap aku melangkah ke Gedung Bank Mandiri di kawasan Semanggi. Tapi tak disangka, acara sangat penuh orang...dan aku tidak tahu, yang mana Dirut Sosro????
Aku bertanya pada Eko, jawabannya..."Aku juga nggak hafal Dev.."
Ok, baiklaaahhhh...-__-"
Akhirnya aku memutuskan berkeliling, mencoba ngobrol dengan orang-orang yang...mungkin saja kebetulan dari Sosro, atau mengenal sosok Dirut Sosro. Aku pun ngobrol dengan Pak Budiman, pemilik perusahaan distributor karet di Palembang dan Jambi, dengan Pak Rico yang adalah Dirut Tunas Ridean. Terakhir, aku mengobrol dengan Ibu Fransiska N Mok, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri.
Obrolan yang biasa dan santai itu, membawa Ibu Fransiska bertanya padaku, "Kamu suka nulis biografi nggak? Saya mau membuat biografi ibu saya."
Wah..jujur aku tidak pernah menulis buku, tapi aku bilang padanya aku tertarik untuk menjadi editor jika dia mau.
Usut punya usut, ibunda dari Ibu Fransiska sudah berumur 86 tahun saat ini. Ternyata, upaya membuat buku itu karena sang ibunda merupakan sosok wanita hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ayah dari Ibu Fransiska meninggal ketika usianya 13 tahun. Untuk itu, sang ibunda pun harus berjuang menghidupi dan mendidik 10 orang anaknya hingga dewasa.
Ibu Fransiska sendiri, merupakan anak keempat. Ketika kuliah di Fakultas Peternakan UNPAD (ternyata kami satu alumni), dia harus segera menyelesaikan kuliah dalam waktu lima tahun. Sesudah itu dia bekerja, untuk membantu membiayai enam adiknya.
Melalui perjalanan panjang pula, Ibu Fransiska kini mencapai jabatan Direktur Bank Mandiri, salah satu bank terbesar di negeri ini. Dia pun, sempat bercerita tentang anak sulungnya, yang usianya setahun lebih muda dariku. Anaknya itu, kini sudah bisa mandiri dengan membangun bisnis e-commerce milik sendiri. Dia, bahkan tidak lagi bergantung pada orang tuanya, kendati ibunya merupakan Direktur Bank Mandiri. Ibu Fransiska bahkan sempat menawarkan aku untuk direkomendasikan kepada anaknya, sehingga bisa memulai bisnis bersama.
Wow...aku sebenarnya mau saja. Tapi memang, aku agak takut jika tidak bisa mengatasi semuanya ini. Aku juga takut mengecewakan, karena aku tidak yakin mampu menjalaninya.
Tapi, satu kalimat yang aku ingat dan suka dari Ibu Fransiska..."Kamu yakin saja, asal kamu rajin, pasti bisa sukses kok. Bisnis ini juga bisa kamu jalankan dimana saja, tanpa harus meninggalkan pekerjaan kamu sebagai wartawan."
Asal kamu rajin, kamu pasti bisa sukses....
Kalimat itu hebat rasanya bagiku. Soalnya, aku memang tergolong orang yang suka tidak percaya diri. Padahal sudah begitu banyak berkat yang Tuhan berikan buatku. Salah satunya, pekerjaan baruku di MergerMarket per 19 September nanti. Tapi aku juga sering mudah menyerah dan mengambil tindakan 'malas', suka menunda dan mencari aman.
Ingin sekali menghilangkan semua itu. Caranya...dengan segera bertindak. Huff...semoga aku bisa melawan diriku sendiri.
Bagaimanapun, cerita masa lalu Ibu Fransiska sangat menginspirasiku. BerkatNya tidak pernah pergi atas anak-anakNya. Setiap kerja keras anak-anakNya akan selalu membuahkan hasil melimpah. Begitulah yang kulihat dari kehidupan Ibu Fransiska.
It's a blessing...
and it's nice meeting you Ibu...^^
-feifei-
Hmm..yang terakhir sangat menarik hati. Maklum saja, Sinar Sosro yang terkenal dengan produk teh botol Sosronya itu, sangat tertutup dan sulit diwawancara.
Jadi, dengan mantap aku melangkah ke Gedung Bank Mandiri di kawasan Semanggi. Tapi tak disangka, acara sangat penuh orang...dan aku tidak tahu, yang mana Dirut Sosro????
Aku bertanya pada Eko, jawabannya..."Aku juga nggak hafal Dev.."
Ok, baiklaaahhhh...-__-"
Akhirnya aku memutuskan berkeliling, mencoba ngobrol dengan orang-orang yang...mungkin saja kebetulan dari Sosro, atau mengenal sosok Dirut Sosro. Aku pun ngobrol dengan Pak Budiman, pemilik perusahaan distributor karet di Palembang dan Jambi, dengan Pak Rico yang adalah Dirut Tunas Ridean. Terakhir, aku mengobrol dengan Ibu Fransiska N Mok, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri.
Obrolan yang biasa dan santai itu, membawa Ibu Fransiska bertanya padaku, "Kamu suka nulis biografi nggak? Saya mau membuat biografi ibu saya."
Wah..jujur aku tidak pernah menulis buku, tapi aku bilang padanya aku tertarik untuk menjadi editor jika dia mau.
Usut punya usut, ibunda dari Ibu Fransiska sudah berumur 86 tahun saat ini. Ternyata, upaya membuat buku itu karena sang ibunda merupakan sosok wanita hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ayah dari Ibu Fransiska meninggal ketika usianya 13 tahun. Untuk itu, sang ibunda pun harus berjuang menghidupi dan mendidik 10 orang anaknya hingga dewasa.
Ibu Fransiska sendiri, merupakan anak keempat. Ketika kuliah di Fakultas Peternakan UNPAD (ternyata kami satu alumni), dia harus segera menyelesaikan kuliah dalam waktu lima tahun. Sesudah itu dia bekerja, untuk membantu membiayai enam adiknya.
Melalui perjalanan panjang pula, Ibu Fransiska kini mencapai jabatan Direktur Bank Mandiri, salah satu bank terbesar di negeri ini. Dia pun, sempat bercerita tentang anak sulungnya, yang usianya setahun lebih muda dariku. Anaknya itu, kini sudah bisa mandiri dengan membangun bisnis e-commerce milik sendiri. Dia, bahkan tidak lagi bergantung pada orang tuanya, kendati ibunya merupakan Direktur Bank Mandiri. Ibu Fransiska bahkan sempat menawarkan aku untuk direkomendasikan kepada anaknya, sehingga bisa memulai bisnis bersama.
Wow...aku sebenarnya mau saja. Tapi memang, aku agak takut jika tidak bisa mengatasi semuanya ini. Aku juga takut mengecewakan, karena aku tidak yakin mampu menjalaninya.
Tapi, satu kalimat yang aku ingat dan suka dari Ibu Fransiska..."Kamu yakin saja, asal kamu rajin, pasti bisa sukses kok. Bisnis ini juga bisa kamu jalankan dimana saja, tanpa harus meninggalkan pekerjaan kamu sebagai wartawan."
Asal kamu rajin, kamu pasti bisa sukses....
Kalimat itu hebat rasanya bagiku. Soalnya, aku memang tergolong orang yang suka tidak percaya diri. Padahal sudah begitu banyak berkat yang Tuhan berikan buatku. Salah satunya, pekerjaan baruku di MergerMarket per 19 September nanti. Tapi aku juga sering mudah menyerah dan mengambil tindakan 'malas', suka menunda dan mencari aman.
Ingin sekali menghilangkan semua itu. Caranya...dengan segera bertindak. Huff...semoga aku bisa melawan diriku sendiri.
Bagaimanapun, cerita masa lalu Ibu Fransiska sangat menginspirasiku. BerkatNya tidak pernah pergi atas anak-anakNya. Setiap kerja keras anak-anakNya akan selalu membuahkan hasil melimpah. Begitulah yang kulihat dari kehidupan Ibu Fransiska.
It's a blessing...
and it's nice meeting you Ibu...^^
-feifei-
Monday, August 1, 2011
Mengisi Blog Satu Lagi...
Rupanya aku punya satu account blog lagi....
Tadinya itu akan kubuat menjadi blog catatan-catatan kecilku, tapi terlupakan. Alhasil hanya membuat account dan kutinggalkan begitu saja haha...
Jadi, kuputuskan mengisinya dengan tulisan-tulisanku yang pernah dimuat di Majalah Fortune Indonesia. Tidak semuanya bisa dimuat, hanya beberapa saja dan mungkin tidak update. Soalnya memang kebijakan kami, tidak boleh publish sampai minimal 2 bulan setelah penerbitan.
Sebenarnya rencana ini sudah lama kupikirkan, tapi tidak kulakukan juga. Kebiasaan menunda-nunda ;p Jadi,sekarang aku mau mulai mensortir tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Fortune dan kumuat lagi di blogku yang satu lagi. Oh iya, nama blog itu awalnya The Journey of Badak Oengoe, tapi karena jadi wadah memuat tulisan di Fortune kuputuskan berubah menjadi Being a Fortune Woman hehe...lumayan keren juga ;p
Cheers ^^
-feifei-
Tadinya itu akan kubuat menjadi blog catatan-catatan kecilku, tapi terlupakan. Alhasil hanya membuat account dan kutinggalkan begitu saja haha...
Jadi, kuputuskan mengisinya dengan tulisan-tulisanku yang pernah dimuat di Majalah Fortune Indonesia. Tidak semuanya bisa dimuat, hanya beberapa saja dan mungkin tidak update. Soalnya memang kebijakan kami, tidak boleh publish sampai minimal 2 bulan setelah penerbitan.
Sebenarnya rencana ini sudah lama kupikirkan, tapi tidak kulakukan juga. Kebiasaan menunda-nunda ;p Jadi,sekarang aku mau mulai mensortir tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Fortune dan kumuat lagi di blogku yang satu lagi. Oh iya, nama blog itu awalnya The Journey of Badak Oengoe, tapi karena jadi wadah memuat tulisan di Fortune kuputuskan berubah menjadi Being a Fortune Woman hehe...lumayan keren juga ;p
Cheers ^^
-feifei-
Sunday, July 31, 2011
TKI oh TKI...
Baru saja membaca postingan berita seorang teman tentang kisah seorang TKI yang dimuat di Kompas.com
Namanya Sri Nawati, warga Desa Karangowo, Kudus, Jawa Tengah. Sejak 2004 lalu, dia pergi mengadu nasib ke Kuwait. Tetapi keberadaannya tidak pernah diketahui sampai detik ini. Padahal kontrak kerja Sri seharusnya sudah habis sejak 2007. Kabar tak ada, uang pun tak pernah dikirimnya...
Masinah, yang juga warga Desa Karangowo, nasibnya sama saja. Dia berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI sejak 1999, tapi kabarnya tak terdengar hingga kini. Entah dimana keberadaan mereka.
Baru-baru ini, kabar TKI di Arab Saudi memang santer terdengar. Terutama, Ruyati yang kabarnya mencuat lantaran dihukum pancung, dan Darsem yang hampir dihukum pancung namun terselamatkan lantaran dimaafkan oleh keluarga korban dan didenda Rp 4,7 miliar yang dibayar oleh negara. Ruyati tak terselamatkan, karena tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Padahal keduanya sama-sama divonis bersalah karena membunuh meski untuk membela diri dari upaya perkosaan.
Darsem sempat mendapat banyak simpati dan warga pun mengumpulkan dana hingga Rp 1,2 miliar sebelum akhirnya pemerintah membayarkan denda itu. Uang itu terkumpul di stasiun TV One. Setelah Darsem berhasil dibawa pulang beberapa waktu lalu, uang itu diberikan kepadanya secara utuh. Katanya, akan dipakai untuk membangun rumah dan menyumbang ke panti asuhan. Berapa alokasinya masing-masing? Darsem tidak menjawab dan hanya tersenyum, pancaran kebahagiaan dirinya.
Tepat ketika melihat siaran TV yang menayangkan penyerahan dana itu, hatiku bertanya-tanya. Mengapa TV One lalu menyerahkan begitu saja uang itu kepada Darsem? Memang itu hak Darsem, yang awalnya untuk membebaskannya. Tapi mengapa tidak ada upaya bujukan kepada pihak Darsem untuk membuat sebuah wadah diplomasi untuk membantu TKI lainnya yang mengalami nasib serupa??
Jujur saja, seketika itu, aku tak lagi simpati pada Darsem ataupun TV One. Seharusnya, dana itu bisa digunakan untuk mewadahi kasus-kasus TKI yang serupa atau segala hal yang berkaitan dengannya. Toh dana itu dari masyarakat banyak, dan ditujukan untuk membebaskan Darsem, tetapi bukan untuk membuatnya kaya mendadak!!
Entah...mungkin karena latar belakang, tingkat pendidikan atau apa lah maksudnya....
Darsem memang berbeda dengan Prita Mulyasari. Ibu rumah tangga yang terkena kasus lantaran mengirim email protes tentang RS Omni International itu juga mendapat banyak simpati. Gerakan Koin untuk Prita lalu muncul dan menghasilkan uang sebesar Rp 825 juta. Fantastis!!!
Uang itu tadinya dikumpulkan untuk membantu Prita yang digugat denda Rp 204 juta. Tetapi Prita justru mengajukan banding dan bebas tanpa denda. Katanya, supaya uang yang terkumpul tidak terpakai. Setelah itu, Prita menyumbangkan uang itu ke yayasan untuk membantu orang-orang lain yang mengalami kasus serupa. "Untuk membantu 'Prita-Prita' lain," begitu katanya. Meski akhirnya, dana itu lalu dipakai untuk membantu korban Merapi sebesar Rp 800 juta.
Yeah...seharusnya, memang dana tersebut bisa digunakan untuk membantu lebih banyak orang. Terutama yang terkena kasus hukum, atau kasus serupa dengan yang dialaminya lantaran memang biayanya tidak murah.
Seandainya Darsem bisa berpikir demikian...mungkin saja keberadaan Sri Nawati atau Masinah bisa ditelusuri? Soalnya banyak juga TKI yang hilang jejaknya di negeri antah berantah. Walaupun begitu, toh kebanyakan penduduk lapisan bawah masih belum kapok juga. Pemberangkatan TKI masih banyak, meskipun mereka disiksa, tidak diberi gaji, sering hampir diperkosa di Arab Saudi, Malaysia, Kuwait, dll.
Jadi teringat yang dikatakan Djoko Susanto, pendiri jaringan Alfamart. "Daripada banyak yang jadi TKI di luar negeri, lebih baik kerja di sini. Kami mendirikan Alfamart dan menyerap banyak tenaga kerja," begitu katanya.
Padahal, gaji yang diterima sebenarnya tidak sangat jauh berbeda dibandingkan UMR di dalam negeri. Aku masih ingat ketika Siti, adik Fa, pengasuhku waktu kecil, berangkat menjadi TKI ke Singapura. Katanya, gaji yang diterima sekitar satu juta lebih. Seorang mantan TKI lain yang kutemui di Lumajang juga bercerita gajinya sekitar SGD 200-300 di Singapura, yang jika dikurs berarti sekitar Rp 1,4-2,1 juta. Mungkin sekitar 2kali lipat dibandingkan UMR pembantu atau pegawai lulusan SMA di Jakarta. Tapi mereka juga bisa menjadi baby sitter yang gajinya bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Setidaknya, mereka tidak disiksa, dan tetap berada di negeri sendiri.
Mungkin gemerlap atau gengsi luar negeri menjadi salah satu yang mereka cari. Bukan hanya uang semata, yang seharusnya bisa didapatkan seandainya pemerintah kita bisa membangun negeri ini dengan lebih baik. Toh kita memiliki semuanya, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang demikian sangat besarnya.
Seandainya saja....
-feifei-
Namanya Sri Nawati, warga Desa Karangowo, Kudus, Jawa Tengah. Sejak 2004 lalu, dia pergi mengadu nasib ke Kuwait. Tetapi keberadaannya tidak pernah diketahui sampai detik ini. Padahal kontrak kerja Sri seharusnya sudah habis sejak 2007. Kabar tak ada, uang pun tak pernah dikirimnya...
Masinah, yang juga warga Desa Karangowo, nasibnya sama saja. Dia berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI sejak 1999, tapi kabarnya tak terdengar hingga kini. Entah dimana keberadaan mereka.
Baru-baru ini, kabar TKI di Arab Saudi memang santer terdengar. Terutama, Ruyati yang kabarnya mencuat lantaran dihukum pancung, dan Darsem yang hampir dihukum pancung namun terselamatkan lantaran dimaafkan oleh keluarga korban dan didenda Rp 4,7 miliar yang dibayar oleh negara. Ruyati tak terselamatkan, karena tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Padahal keduanya sama-sama divonis bersalah karena membunuh meski untuk membela diri dari upaya perkosaan.
Darsem sempat mendapat banyak simpati dan warga pun mengumpulkan dana hingga Rp 1,2 miliar sebelum akhirnya pemerintah membayarkan denda itu. Uang itu terkumpul di stasiun TV One. Setelah Darsem berhasil dibawa pulang beberapa waktu lalu, uang itu diberikan kepadanya secara utuh. Katanya, akan dipakai untuk membangun rumah dan menyumbang ke panti asuhan. Berapa alokasinya masing-masing? Darsem tidak menjawab dan hanya tersenyum, pancaran kebahagiaan dirinya.
Tepat ketika melihat siaran TV yang menayangkan penyerahan dana itu, hatiku bertanya-tanya. Mengapa TV One lalu menyerahkan begitu saja uang itu kepada Darsem? Memang itu hak Darsem, yang awalnya untuk membebaskannya. Tapi mengapa tidak ada upaya bujukan kepada pihak Darsem untuk membuat sebuah wadah diplomasi untuk membantu TKI lainnya yang mengalami nasib serupa??
Jujur saja, seketika itu, aku tak lagi simpati pada Darsem ataupun TV One. Seharusnya, dana itu bisa digunakan untuk mewadahi kasus-kasus TKI yang serupa atau segala hal yang berkaitan dengannya. Toh dana itu dari masyarakat banyak, dan ditujukan untuk membebaskan Darsem, tetapi bukan untuk membuatnya kaya mendadak!!
Entah...mungkin karena latar belakang, tingkat pendidikan atau apa lah maksudnya....
Darsem memang berbeda dengan Prita Mulyasari. Ibu rumah tangga yang terkena kasus lantaran mengirim email protes tentang RS Omni International itu juga mendapat banyak simpati. Gerakan Koin untuk Prita lalu muncul dan menghasilkan uang sebesar Rp 825 juta. Fantastis!!!
Uang itu tadinya dikumpulkan untuk membantu Prita yang digugat denda Rp 204 juta. Tetapi Prita justru mengajukan banding dan bebas tanpa denda. Katanya, supaya uang yang terkumpul tidak terpakai. Setelah itu, Prita menyumbangkan uang itu ke yayasan untuk membantu orang-orang lain yang mengalami kasus serupa. "Untuk membantu 'Prita-Prita' lain," begitu katanya. Meski akhirnya, dana itu lalu dipakai untuk membantu korban Merapi sebesar Rp 800 juta.
Yeah...seharusnya, memang dana tersebut bisa digunakan untuk membantu lebih banyak orang. Terutama yang terkena kasus hukum, atau kasus serupa dengan yang dialaminya lantaran memang biayanya tidak murah.
Seandainya Darsem bisa berpikir demikian...mungkin saja keberadaan Sri Nawati atau Masinah bisa ditelusuri? Soalnya banyak juga TKI yang hilang jejaknya di negeri antah berantah. Walaupun begitu, toh kebanyakan penduduk lapisan bawah masih belum kapok juga. Pemberangkatan TKI masih banyak, meskipun mereka disiksa, tidak diberi gaji, sering hampir diperkosa di Arab Saudi, Malaysia, Kuwait, dll.
Jadi teringat yang dikatakan Djoko Susanto, pendiri jaringan Alfamart. "Daripada banyak yang jadi TKI di luar negeri, lebih baik kerja di sini. Kami mendirikan Alfamart dan menyerap banyak tenaga kerja," begitu katanya.
Padahal, gaji yang diterima sebenarnya tidak sangat jauh berbeda dibandingkan UMR di dalam negeri. Aku masih ingat ketika Siti, adik Fa, pengasuhku waktu kecil, berangkat menjadi TKI ke Singapura. Katanya, gaji yang diterima sekitar satu juta lebih. Seorang mantan TKI lain yang kutemui di Lumajang juga bercerita gajinya sekitar SGD 200-300 di Singapura, yang jika dikurs berarti sekitar Rp 1,4-2,1 juta. Mungkin sekitar 2kali lipat dibandingkan UMR pembantu atau pegawai lulusan SMA di Jakarta. Tapi mereka juga bisa menjadi baby sitter yang gajinya bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Setidaknya, mereka tidak disiksa, dan tetap berada di negeri sendiri.
Mungkin gemerlap atau gengsi luar negeri menjadi salah satu yang mereka cari. Bukan hanya uang semata, yang seharusnya bisa didapatkan seandainya pemerintah kita bisa membangun negeri ini dengan lebih baik. Toh kita memiliki semuanya, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang demikian sangat besarnya.
Seandainya saja....
-feifei-
Monday, June 27, 2011
Kenangan Buitenzorg
Tiba-tiba ingat kenangan waktu berkunjung sehari ke Bogor alias Buitenzorg, nama jaman bahelua dulu ;p
Tanggal 30 April 2011, pagi-pagi sekali aku, Devina dan Dwi janji bertemu di halte busway Grogol. Sesudah itu, kami bertemu Gita di Stasiun Jakarta Kota dan akhirnya naik Pakuwon Ekspress menuju Buitenzorg jam 7.30 WIB. Perjalanannya sekitar 1 jam, dan kami mendapat gerbong khusus wanita, jadi hanya ada beberapa orang saja di satu gerbong yang ber-AC yippiee...^^
Sekitar pukul 09.00 WIB kami mencapai Stasiun Bogor. Di depan jalan stasiun yang sempit itu, kami langsung mencari angkot hijau nomor 03, menuju Taman Kencana. Di sekitaran sana, katanya banyak kuliner enak & asik yang harus didatangi. Awalnya kami mencari Es Buah Pak Ewok, ternyata yang dicari justru tidak ketemu. Dan sepanjang jalan kami menemukan Makaroni Panggang, Lasagna Gulung, Pie Apple, dan beberapa lainnya, yang aku lupa.
Saking antusiasnya, kami berempat akhirnya memutuskan mencoba satu per satu makanan itu. Pertama, mencapai Pie Apple dengan rencana dibungkus satu buah untuk dimakan di Kebun Raya. Ternyata kami menemukan Pizza Bakar di seberangnya, dan membuat kami berbelok ke sana. Pizzanya...enak dan tempatnya nyaman, terutama untuk foto-foto hehe...
Tetapi rencana membungkus Pie Apple kesampaian juga. Sesudahnya, kami belok ke Lasagna Gulung. Kami berpikir membeli satu buah untuk dibagi empat, supaya tidak terlalu kenyang. Ternyata, lasagna itu panjangnya 30 cm dan lebar sekitar 10 cm dan tebal 10 cm. Alhasil, kenyaaannggg...dan eneg :(
Aku dan Gita berhasil makan dua potong, Devina hanya satu karena eneg dan Dwie jadi juara pertama dengan memakan tiga potong hehehe...
Sebelum pulang, tidak lupa kami foto-foto di taman restoran itu. Soalnya ada dua ayunan yang asik dijadikan background, dan akhirnya foto pun jadi seperti album perdana girlband hahaha...
Tujuan selanjutnya adalah Roti Unyil Venus, tentunya untuk oleh-oleh ^^
Setelah dua kali naik angkot, dan jarak yang lumayan jauh dari Taman Kencana, kami mencapai Venus. Foto-foto, sekali lagi tidak dilupakan, terutama olehku.
Beli oleh-oleh selesaaaiiii...ayo ke Kebun Raya!! ^^
Waktu masuk Kebun Raya, aku takjub lho...ternyata benar-benar seperti hutan di dalam kota. Suasananya sangat sejuk, pohon-pohon dan bangunan di dalamnya sangat klasik, sesuai usianya yang puluhan sampai ratusan tahun.
Tadinya kami ingin melihat bunga bangkai, tapi sayang...dia baru saja mati dua minggu sebelumnya dan sekarang masuk lagi ke tahap dorman :(
Akhirnya kami pun masuk ke Museum Zoologi, yang isinya berbagai binatang diawetkan. Aku menemukan Badak Bercula Satu alias Bacusa alias Rhinoceros Sondaicus, benar-benar asli diawetkan. Warnanya sudah hitam, mungkin karena usianya sudah tua. Katanya itu adalah Bacusa terakhir yang ditemukan di Tasikmalaya sekitar 50 tahun lalu. Badak itu akhirnya ditembak dan diawetkan supaya tidak dibunuh oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Kasihan...;(
Hampir seharian jalan-jalan ke Bogor ternyata cukup melelahkan. Kami sempat berpikir jalan kaki berkeliling Kebun Raya, tapi akhirnya memutuskan naik mobil keliling lantaran sudah cape ;p Bayar Rp 10.000 per orang, lalu kami diantar berputar-putar dan diberi penjelasan beraneka ragam tanaman yang rata-rata lebih tua dari kami. Dan aku menjadi yang paling cerewet bertanya kepada pemandu :p
Selesai berkeliling, kami hanya bisa beristirahat di Cafe Organik karena kelelahan. Setelah sempat makan Pie Apple yang tadi dibeli, plus pesan baso organik dan minuman macam-macam, kami pun berniat pulang dan mengejar kereta pukul 17.00 WIB.
Sayang, gara-gara salah naik angkot dengan sopir belagu yang membuat kami berputar-putar di jalanan Kota Bogor yang macet. Akhirnya kami pindah angkot dan baru bisa sampai stasiun jam lima lewat dan harus naik kereta terakhir pukul 18.00 WIB.
Seharian di Bogor menyenangkan, sayang akhirnya menyebalkan karena sopir angkot itu dan seorang pria muda tidak punya nyali dan sok keren di angkot kedua. Hampir saja kami berantem, empat cewe lawan satu cowo hahahaa....
But that's it, di kereta yang ada lumayan kecapean dan pemenang tidur di kereta adalah Gita hihihi...;p
Dan sekitar jam 19.30 WIB, kami pun mencapai Stasiun Jakarta Kota lagi...^^
Sepertinya boleh juga lain kali main-main lagi ke Buitenzorg, terutama menuntaskan hasrat makan Makaroni Panggang dan Es Buah Pak Ewok yang belum kesampaian hehe...
-feifei-
Tanggal 30 April 2011, pagi-pagi sekali aku, Devina dan Dwi janji bertemu di halte busway Grogol. Sesudah itu, kami bertemu Gita di Stasiun Jakarta Kota dan akhirnya naik Pakuwon Ekspress menuju Buitenzorg jam 7.30 WIB. Perjalanannya sekitar 1 jam, dan kami mendapat gerbong khusus wanita, jadi hanya ada beberapa orang saja di satu gerbong yang ber-AC yippiee...^^
Sekitar pukul 09.00 WIB kami mencapai Stasiun Bogor. Di depan jalan stasiun yang sempit itu, kami langsung mencari angkot hijau nomor 03, menuju Taman Kencana. Di sekitaran sana, katanya banyak kuliner enak & asik yang harus didatangi. Awalnya kami mencari Es Buah Pak Ewok, ternyata yang dicari justru tidak ketemu. Dan sepanjang jalan kami menemukan Makaroni Panggang, Lasagna Gulung, Pie Apple, dan beberapa lainnya, yang aku lupa.
Saking antusiasnya, kami berempat akhirnya memutuskan mencoba satu per satu makanan itu. Pertama, mencapai Pie Apple dengan rencana dibungkus satu buah untuk dimakan di Kebun Raya. Ternyata kami menemukan Pizza Bakar di seberangnya, dan membuat kami berbelok ke sana. Pizzanya...enak dan tempatnya nyaman, terutama untuk foto-foto hehe...
Tetapi rencana membungkus Pie Apple kesampaian juga. Sesudahnya, kami belok ke Lasagna Gulung. Kami berpikir membeli satu buah untuk dibagi empat, supaya tidak terlalu kenyang. Ternyata, lasagna itu panjangnya 30 cm dan lebar sekitar 10 cm dan tebal 10 cm. Alhasil, kenyaaannggg...dan eneg :(
Aku dan Gita berhasil makan dua potong, Devina hanya satu karena eneg dan Dwie jadi juara pertama dengan memakan tiga potong hehehe...
Sebelum pulang, tidak lupa kami foto-foto di taman restoran itu. Soalnya ada dua ayunan yang asik dijadikan background, dan akhirnya foto pun jadi seperti album perdana girlband hahaha...
Tujuan selanjutnya adalah Roti Unyil Venus, tentunya untuk oleh-oleh ^^
Setelah dua kali naik angkot, dan jarak yang lumayan jauh dari Taman Kencana, kami mencapai Venus. Foto-foto, sekali lagi tidak dilupakan, terutama olehku.
Beli oleh-oleh selesaaaiiii...ayo ke Kebun Raya!! ^^
Waktu masuk Kebun Raya, aku takjub lho...ternyata benar-benar seperti hutan di dalam kota. Suasananya sangat sejuk, pohon-pohon dan bangunan di dalamnya sangat klasik, sesuai usianya yang puluhan sampai ratusan tahun.
Tadinya kami ingin melihat bunga bangkai, tapi sayang...dia baru saja mati dua minggu sebelumnya dan sekarang masuk lagi ke tahap dorman :(
Akhirnya kami pun masuk ke Museum Zoologi, yang isinya berbagai binatang diawetkan. Aku menemukan Badak Bercula Satu alias Bacusa alias Rhinoceros Sondaicus, benar-benar asli diawetkan. Warnanya sudah hitam, mungkin karena usianya sudah tua. Katanya itu adalah Bacusa terakhir yang ditemukan di Tasikmalaya sekitar 50 tahun lalu. Badak itu akhirnya ditembak dan diawetkan supaya tidak dibunuh oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Kasihan...;(
Hampir seharian jalan-jalan ke Bogor ternyata cukup melelahkan. Kami sempat berpikir jalan kaki berkeliling Kebun Raya, tapi akhirnya memutuskan naik mobil keliling lantaran sudah cape ;p Bayar Rp 10.000 per orang, lalu kami diantar berputar-putar dan diberi penjelasan beraneka ragam tanaman yang rata-rata lebih tua dari kami. Dan aku menjadi yang paling cerewet bertanya kepada pemandu :p
Selesai berkeliling, kami hanya bisa beristirahat di Cafe Organik karena kelelahan. Setelah sempat makan Pie Apple yang tadi dibeli, plus pesan baso organik dan minuman macam-macam, kami pun berniat pulang dan mengejar kereta pukul 17.00 WIB.
Sayang, gara-gara salah naik angkot dengan sopir belagu yang membuat kami berputar-putar di jalanan Kota Bogor yang macet. Akhirnya kami pindah angkot dan baru bisa sampai stasiun jam lima lewat dan harus naik kereta terakhir pukul 18.00 WIB.
Seharian di Bogor menyenangkan, sayang akhirnya menyebalkan karena sopir angkot itu dan seorang pria muda tidak punya nyali dan sok keren di angkot kedua. Hampir saja kami berantem, empat cewe lawan satu cowo hahahaa....
But that's it, di kereta yang ada lumayan kecapean dan pemenang tidur di kereta adalah Gita hihihi...;p
Dan sekitar jam 19.30 WIB, kami pun mencapai Stasiun Jakarta Kota lagi...^^
Sepertinya boleh juga lain kali main-main lagi ke Buitenzorg, terutama menuntaskan hasrat makan Makaroni Panggang dan Es Buah Pak Ewok yang belum kesampaian hehe...
-feifei-
Tuesday, May 31, 2011
Mengenal Eros…
Masih lekat dalam benakku, hari dimana aku menyambut pagi yang menggebu.
Hari inikah jawabannya, Tuhan? Membahagiakan atau mengecewakan?
Aku tak pernah tahu…
Yang kulakukan hanya mempersiapkan diri bertemu seorang teman lama di sebuah mall di Jakarta.
Malam pada hari itu, aku terdiam tak percaya. Rasanya aneh ketika aku mendapatkan jawabanNya…membahagiakan.
Hampir satu tahun lamanya, aku bertanya, meminta, sekaligus dibentukNya.
Percaya, bahwa tidak ada yang mustahil jika Dia berkenan memberikan apapun yang kita harapkan.
Aku masih ingat, hari dimana aku memutuskan untuk berusaha…
“Ayo mencoba, jika tidak maka kita tak pernah tahu.”
“Ayo berani, sampai kapan harus berdiam diri?”
“Ayo lawan diri sendiri, sampai kapan tembok raksasa itu tak kau runtuhkan?”
Hmm..ya..ya…
Jari jemariku bergerak-gerak menekan tuts keyboard, mencoba mengetik sebuah pesan.
Tidak..tidak..
Tidak begini kalimatnya…
Jariku bergerak lagi menekan tuts backspace, lalu kembali menekan huruf-huruf.
Sudah pas kah?
Hmm..belum..coba kulihat lagi…
OK…begitu saja kalimatnya…
Send…send…
Ahh…tapi, yakin akan dikirim?
Atau tidak perlu ya? Biarkan saja…biarkan rasa ini terkubur dalam-dalam?
Tapi…ayolah…coba saja…
Baiklah…klik send…
OK…send…
Kupejamkan mataku…
Sambil mencoba mengatasi bunyi dentuman yang mengetuk-ngetuk di dalam dadaku.
Baiklah..aku sudah mengirimnya.
Lalu bagaimana jika tidak dijawab?
Yah…setidaknya aku sudah mencoba.
Artinya…aku harus siap dengan apapun konsekuensinya. Ya…
Satu hari…dua hari…
Entah berapa hari lamanya aku menunggu…
Membuka inbox setiap hari, mencari jawaban atas pesanku
Sampai akhirnya, jawaban itu muncul.
Judulnya “Re: Halloo..”
Deg..deg…
Isi yang biasa, jawaban atas sapaan teman lama.
Tapi hatiku sangat bahagia…
Dari sana, semuanya berlanjut. Pesan berantai terkirim, dengan berbagai cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.
Yah maklum saja, kini kami berjauhan.
Antara Parisj van Java dan Pulau Dewata, aku jatuh cinta…
Hari demi hari, kuisi dengan penantian akan pesan baru darinya.
Di sela setiap kepusingan menyelesaikan satu tahap kehidupanku.
Dari sana, setiap hari aku berdoa…bagiku dan baginya…
Eros, bentuk kasih yang sebelumnya kuanggap mitos semata
Rupanya diam-diam, dia datang dan mengubah diriku
Lewat doa, pribadiku pun dibentuk...
Padahal, berkali-kali aku berkata ketika lelah menghampiriku…
“Sudah…sudah…lelah sekali hati ini rasanya.”
“Sudah…sudah…apa kamu yakin, jawabannya iya?”
“Sudah…sudah…apa dia memikirkanmu ketika kamu memikirkan dia?”
Hingga berkali-kali aku juga berdoa…
“Tuhan, jika jawabannya tidak…bolehkah segera katakan padaku?”
“Tuhan, cepatlah berikan jawabanMu…aku mulai lelah.”
“Sabar nak…tenang saja…tenanglah…sampai kubentuk dirimu dengan kasihKu.”
Begitu jawaban yang selalu kuterima.
Seorang temanku pernah berkata…
“Fei, mendoakan seseorang yang kita sayangi, bukan berarti meminta dia juga punya perasaan yang sama dengan kita.”
“Fei, itu berarti kita mendoakan dia, mohon berkat bagi dia, mohon perlindungan bagi dia, mohon setiap hal yang terbaik bagi dia.”
“Fei, berdoalah terus bagi dia…sampai kamu mencintainya dalam doa, dan menemukan jawabannya.”
Ya…Tapi bisakah aku?
Hati ini tak pernah mengizinkan siapapun tinggal berlama-lama di dalamnya.
Hati ini tak pernah mengizinkan berharap akan seseorang kaum adam.
Mitos, itu hanya mitos saja…tidak ada yang nyata…
Begitu pikirku…
Tapi, Dia berkata lain…
Bisa Fei…jika Aku berkata iya…
Benarkah Tuhan?
“Iya, dan ayo…belajar berharap untuk sang Eros,” begitu jawabNya.
Hari itu, hari yang sama seperti saat ini…empat tahun lalu.
Dia memberikan jawabanNya…
Dia membuktikannya…tiada yang mustahil bagi Dia.
Meski segala sesuatunya tampak tak mungkin bagi kita…
Dan sejak hari itu, aku berkata padaNya…
Terima kasih Tuhan, untuk pribadiku yang dibentuk luar biasa…
Aku tidak ingin menyesali, apapun yang akan terjadi ke depan.
Karena Kau telah mengenalkanku pada Sang Eros yang sesungguhnya.
Karena kasih, selalu berupaya untuk memberi…tanpa mengharap kembali…
Terima kasih, Kau ajarkan aku kasih yang sejati…
Kau ajarkan aku mengasihi seperti yang Engkau lakukan
Meski kasihku sangat jauh dari sempurna dibandingkan kasihMu
-feifei-
Hari inikah jawabannya, Tuhan? Membahagiakan atau mengecewakan?
Aku tak pernah tahu…
Yang kulakukan hanya mempersiapkan diri bertemu seorang teman lama di sebuah mall di Jakarta.
Malam pada hari itu, aku terdiam tak percaya. Rasanya aneh ketika aku mendapatkan jawabanNya…membahagiakan.
Hampir satu tahun lamanya, aku bertanya, meminta, sekaligus dibentukNya.
Percaya, bahwa tidak ada yang mustahil jika Dia berkenan memberikan apapun yang kita harapkan.
Aku masih ingat, hari dimana aku memutuskan untuk berusaha…
“Ayo mencoba, jika tidak maka kita tak pernah tahu.”
“Ayo berani, sampai kapan harus berdiam diri?”
“Ayo lawan diri sendiri, sampai kapan tembok raksasa itu tak kau runtuhkan?”
Hmm..ya..ya…
Jari jemariku bergerak-gerak menekan tuts keyboard, mencoba mengetik sebuah pesan.
Tidak..tidak..
Tidak begini kalimatnya…
Jariku bergerak lagi menekan tuts backspace, lalu kembali menekan huruf-huruf.
Sudah pas kah?
Hmm..belum..coba kulihat lagi…
OK…begitu saja kalimatnya…
Send…send…
Ahh…tapi, yakin akan dikirim?
Atau tidak perlu ya? Biarkan saja…biarkan rasa ini terkubur dalam-dalam?
Tapi…ayolah…coba saja…
Baiklah…klik send…
OK…send…
Kupejamkan mataku…
Sambil mencoba mengatasi bunyi dentuman yang mengetuk-ngetuk di dalam dadaku.
Baiklah..aku sudah mengirimnya.
Lalu bagaimana jika tidak dijawab?
Yah…setidaknya aku sudah mencoba.
Artinya…aku harus siap dengan apapun konsekuensinya. Ya…
Satu hari…dua hari…
Entah berapa hari lamanya aku menunggu…
Membuka inbox setiap hari, mencari jawaban atas pesanku
Sampai akhirnya, jawaban itu muncul.
Judulnya “Re: Halloo..”
Deg..deg…
Isi yang biasa, jawaban atas sapaan teman lama.
Tapi hatiku sangat bahagia…
Dari sana, semuanya berlanjut. Pesan berantai terkirim, dengan berbagai cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.
Yah maklum saja, kini kami berjauhan.
Antara Parisj van Java dan Pulau Dewata, aku jatuh cinta…
Hari demi hari, kuisi dengan penantian akan pesan baru darinya.
Di sela setiap kepusingan menyelesaikan satu tahap kehidupanku.
Dari sana, setiap hari aku berdoa…bagiku dan baginya…
Eros, bentuk kasih yang sebelumnya kuanggap mitos semata
Rupanya diam-diam, dia datang dan mengubah diriku
Lewat doa, pribadiku pun dibentuk...
Padahal, berkali-kali aku berkata ketika lelah menghampiriku…
“Sudah…sudah…lelah sekali hati ini rasanya.”
“Sudah…sudah…apa kamu yakin, jawabannya iya?”
“Sudah…sudah…apa dia memikirkanmu ketika kamu memikirkan dia?”
Hingga berkali-kali aku juga berdoa…
“Tuhan, jika jawabannya tidak…bolehkah segera katakan padaku?”
“Tuhan, cepatlah berikan jawabanMu…aku mulai lelah.”
“Sabar nak…tenang saja…tenanglah…sampai kubentuk dirimu dengan kasihKu.”
Begitu jawaban yang selalu kuterima.
Seorang temanku pernah berkata…
“Fei, mendoakan seseorang yang kita sayangi, bukan berarti meminta dia juga punya perasaan yang sama dengan kita.”
“Fei, itu berarti kita mendoakan dia, mohon berkat bagi dia, mohon perlindungan bagi dia, mohon setiap hal yang terbaik bagi dia.”
“Fei, berdoalah terus bagi dia…sampai kamu mencintainya dalam doa, dan menemukan jawabannya.”
Ya…Tapi bisakah aku?
Hati ini tak pernah mengizinkan siapapun tinggal berlama-lama di dalamnya.
Hati ini tak pernah mengizinkan berharap akan seseorang kaum adam.
Mitos, itu hanya mitos saja…tidak ada yang nyata…
Begitu pikirku…
Tapi, Dia berkata lain…
Bisa Fei…jika Aku berkata iya…
Benarkah Tuhan?
“Iya, dan ayo…belajar berharap untuk sang Eros,” begitu jawabNya.
Hari itu, hari yang sama seperti saat ini…empat tahun lalu.
Dia memberikan jawabanNya…
Dia membuktikannya…tiada yang mustahil bagi Dia.
Meski segala sesuatunya tampak tak mungkin bagi kita…
Dan sejak hari itu, aku berkata padaNya…
Terima kasih Tuhan, untuk pribadiku yang dibentuk luar biasa…
Aku tidak ingin menyesali, apapun yang akan terjadi ke depan.
Karena Kau telah mengenalkanku pada Sang Eros yang sesungguhnya.
Karena kasih, selalu berupaya untuk memberi…tanpa mengharap kembali…
Terima kasih, Kau ajarkan aku kasih yang sejati…
Kau ajarkan aku mengasihi seperti yang Engkau lakukan
Meski kasihku sangat jauh dari sempurna dibandingkan kasihMu
-feifei-
Tuesday, May 24, 2011
Operasi Plastik Artis-Artis Korea
Hmm...nggak sengaja buka-buka thread forum tentang foto before and after.
Tiba-tiba aku ingat pada artis-artis yang suka melakukan operasi plastik. Beberapa tahun belakangan ini, yang terkenal adalah para artis Korea. Yeah, seleb-seleb negeri ginseng itu, kabarnya hampir semua melakukan operasi plastik.
Sempat kucari-cari di Google, ternyata memang banyak yang membicarakan itu...
Dari situs-situs dan foto-foto yang muncul, kebanyakan mereka melakukan operasi plastik untuk mata. Orang-orang Korea memang biasanya bermata sipit, sama seperti orang China atau Jepang. Mereka memang serumpun siy...
Nggak heran, kalau bentuk mata artis-artis Korea kelihatan sama semua. Kecil tapi bulat dan terkesan manis. Selain mata, yang sering dioperasi juga adalah hidung dan rahang. Hasilnya...biasanya memang jauh berbeda dari wajah sebelumnya. Padahal menurutku, mereka cukup cantik & ganteng sebelum operasi. Paling tidak, make over bisa koq dilakukan dengan make up saja. Walaupun, memang sih...nggak permanen.
Tapi katanya, entah benar atau nggak. Orang Korea lebih suka bentuk yang seragam, bukan berbeda-beda. Mungkin itu sebabnya, wajah-wajah artis Korea kebanyakan terkesan manis, imut, lembut, dan cowo yang lebih terkesan cantik daripada ganteng.
Hmm...jadi ingat cerita Asing Mira dan Acek Huk waktu mereka pulang dari wisata di Korea sekitar dua tahun lalu. Kata Asing, wajah-wajah anak muda Korea, terutama cewe rata-rata mirip. Bentuk hidungnya selalu mancung & kecil. Dan semuanya itu bisa ditemui di jalanan kota-kota besar Korea seperti Seoul.
Kabarnya operasi plastik memang sudah menjadi hal wajar & tidak memalukan di Korea. Wow...:D
Tapi aku tetap tidak setuju dengan operasi plastik, kecuali untuk membenahi bekas luka atau kecelakaan yang tidak disengaja. Bagaimanapun, setiap orang dibentuk unik oleh Sang Maha Segala. Oleh karena itu, setiap pribadi adalah hadiah yang diberikan olehNya bagi dunia...jadi, nggak boleh dirusak lho..^^
Ini beberapa foto yang kudapat dari googling, dan saya yakin pastinya masih banyak foto lain kalau mau dicari. Yeah walaupun saya bukan tergolong penggemar artis Korea tapi boleh kan iseng-iseng...;p

Hyo Yun SNSD

Kim Ah Joong

Uhm Jung Hwa
-by feifei-
Tiba-tiba aku ingat pada artis-artis yang suka melakukan operasi plastik. Beberapa tahun belakangan ini, yang terkenal adalah para artis Korea. Yeah, seleb-seleb negeri ginseng itu, kabarnya hampir semua melakukan operasi plastik.
Sempat kucari-cari di Google, ternyata memang banyak yang membicarakan itu...
Dari situs-situs dan foto-foto yang muncul, kebanyakan mereka melakukan operasi plastik untuk mata. Orang-orang Korea memang biasanya bermata sipit, sama seperti orang China atau Jepang. Mereka memang serumpun siy...
Nggak heran, kalau bentuk mata artis-artis Korea kelihatan sama semua. Kecil tapi bulat dan terkesan manis. Selain mata, yang sering dioperasi juga adalah hidung dan rahang. Hasilnya...biasanya memang jauh berbeda dari wajah sebelumnya. Padahal menurutku, mereka cukup cantik & ganteng sebelum operasi. Paling tidak, make over bisa koq dilakukan dengan make up saja. Walaupun, memang sih...nggak permanen.
Tapi katanya, entah benar atau nggak. Orang Korea lebih suka bentuk yang seragam, bukan berbeda-beda. Mungkin itu sebabnya, wajah-wajah artis Korea kebanyakan terkesan manis, imut, lembut, dan cowo yang lebih terkesan cantik daripada ganteng.
Hmm...jadi ingat cerita Asing Mira dan Acek Huk waktu mereka pulang dari wisata di Korea sekitar dua tahun lalu. Kata Asing, wajah-wajah anak muda Korea, terutama cewe rata-rata mirip. Bentuk hidungnya selalu mancung & kecil. Dan semuanya itu bisa ditemui di jalanan kota-kota besar Korea seperti Seoul.
Kabarnya operasi plastik memang sudah menjadi hal wajar & tidak memalukan di Korea. Wow...:D
Tapi aku tetap tidak setuju dengan operasi plastik, kecuali untuk membenahi bekas luka atau kecelakaan yang tidak disengaja. Bagaimanapun, setiap orang dibentuk unik oleh Sang Maha Segala. Oleh karena itu, setiap pribadi adalah hadiah yang diberikan olehNya bagi dunia...jadi, nggak boleh dirusak lho..^^
Ini beberapa foto yang kudapat dari googling, dan saya yakin pastinya masih banyak foto lain kalau mau dicari. Yeah walaupun saya bukan tergolong penggemar artis Korea tapi boleh kan iseng-iseng...;p

Hyo Yun SNSD

Kim Ah Joong

Uhm Jung Hwa
-by feifei-
Subscribe to:
Posts (Atom)